Quarter life crisis itu nyata, dan lo nggak sendirian. Rasanya kayak lagi nyetir di jalan yang sepi tiba-tiba bingung mau ke mana, padahal sebelumnya yakin banget sama peta yang lo bawa. Kalau lo lagi di fase itu, ada teman ngobral yang bisa nemenin: podcast Menjadi Manusia karya Raditya Dika.
Bukan podcast tipikal yang ngasih tips A-B-C atau interview orang sukses. Ini lebih kayak dengerin curhatan teman yang sudah melewati banyak hal, tapi masih merasa “nggak tahu” juga. Dan justru itulah yang bikin lo merasa heard.
Kenalan Dulu sama ‘Menjadi Manusia’
Raditya Dika, yang lo kenal sebagai penulis, komika, dan filmmaker, ternyata punya kemampuan ngebahas hal-hal filosofis tanpa bikin kepala pusing. Formatnya sederhana: monolog. Cuma dia, mikrofon, dan pemikirannya. Durasi per episode bervariasi, mulai dari 30 menit sampai sejam lebih. Cukup buat nemenin perjalanan pulang kantor atau ritual ngopi pagi.
Yang menarik, dia nggak pernah berpura-pura punya jawaban. Setiap episode lebih seperti proses eksplorasi. Misalnya, di episode soal “Rasa Takut”, dia nggak bilang “jangan takut”. Dia malah cerita pengalamannya, ketakutannya, dan bagaimana dia belajar hidup berdampingan sama rasa itu.

Apa yang Bikin Podcast Ini Beda dari Self-Help Lain?
Banyak podcast self-improvement yang bikin lo merasa “kurang” kalau nggak bisa ikuti saran mereka. Menjadi Manusia malah ngajak lo merasa “cukup” meski masih berantakan. Dika punya skill ngejalin cerita pribadi dengan referensi filosofis—bisa dari buku, film, atau pengamatan sehari-hari—tetap terasa kayak ngobrol di kedai kopi.
Dia pernah bahas konsep amor fati cinta takdir ala Nietzsche, tapi langsung nyambungin sama kegagalan film-filmnya yang nggak laku. Jadi lo nggak cuma denger teori, tapi juga aplikasi nyata yang bikin lo mikir, “Oh, ini juga berlaku buat gue.”
Bukan Guru, Tapi Teman yang Lebih Dulu Bangun
Nada suaranya nggak mendikte. Dia sering ketawa kecil atau bahkan terdiam sejenak, kayak lagi mikir di spot. Ini bikin lo merasa ngobrol sama teman yang lebih dulu bangun pagi, bukan dosen yang ngasih kuliah. Kesan raw dan nggak diedit terlalu banyak justru jadi kekuatan utama.
Topik yang Sering Dibahas dan Kenapa Relevan buat QLC
Lo bisa dapet episode yang bahas hal-hal konkret yang lagi lo rasain. Ini beberapa favorit:
- Kebingungan Karier: Dika cerita soal transisinya dari komika ke filmmaker, dan bagaimana dia juga nggak selalu yakin.
- Relasi yang Rumit: Dari pertemanan yang menjauh sampai ekspektasi keluarga.
- Perbandingan Sosial: Mengapa kita selalu merasa “kurang” kalau liat Instagram orang lain.
- Kecemasan Finansial: Uang, passion, dan dilema generasi muda.
- Arti “Sukses”: Mendefinisikan ulang apa yang beneran penting buat lo.
Setiap topik dibahas dengan lapisan nuansa. Dia nggak pernah menyederhanakan masalah jadi hitam-putih. Dan itu penting banget buat lo yang lagi bingung, karena QLC itu sendiri penuh abu-abu.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Dengerin?
Podcast ini punya energi yang fleksibel. Bisa lo dengerin:
- Saat commuting: Nemenin perjalanan yang sepi dan bikin lo merasa lebih tenang.
- Malam sebelum tidur: Bikin pikiran yang riuh jadi lebih damai.
- Saat lagi jalan sendirian: Dika jadi teman ngobral yang nggak judgemental.
Tapi mungkin nggak cocok buat lo yang lagi butuh semangat instan. Karena dia lebih ke arah refleksi, bukan motivasi pump-up. Kalau lo butuh quick fix, ini bukan tempatnya.
Episode Wajib untuk Lo yang Lagi Kena QLC Parah
Saya udah dengerin hampir semua episode, dan ini rekomendasi yang paling sering saya share ke teman:
- Episode 7: “Rasa Takut” – Perfect buat lo yang lagi takut ambil keputusan besar.
- Episode 12: “Tentang Pilihan” – Bantu lo melihat pilihan sebagai eksperimen, bukan beban.
- Episode 18: “Kesendirian” – Ngebahas pentingnya waktu sendiri tanpa terasa sedih.
- Episode 25: “Quarter Life Crisis” (Yes, ada episode khusus!) – Ini episode yang paling direct menjawab keresahan lo.
- Episode 31: “Menerima Ketidaktahuan” – Bikin lo lebih lega kalau nggak punya jawaban semua pertanyaan hidup.
Masing-masing episode punya takeaway yang beda, tapi yang pasti lo akan merasa lebih grounded setelahnya.

Plus dan Minus (Tapi Banyak Plusnya)
Biar lo bisa pertimbangkan, ini analisis jujur dari pengalaman dengerin terus-terusan:
- Plus: Nada yang autentik, topik relevan, durasi fleksibel, nggak ada iklan mengganggu, dan bisa didengerin ulang tanpa bosan.
- Minus: Kadang ada episode yang terlalu filosofis dan abstrak, bisa bikin lo mikir “ini maksudnya apa sih?” tapi biasanya cuma di awal-awal episode.
Oh, dan satu lagi: dia rilis episode secara nggak teratur. Jadi lo nggak bisa harap ada konten baru setiap minggu. Tapi justru itu bikin Menjadi Manusia terasa lebih spesial, kayak surat yang datang tanpa jadwal tapi selalu ditunggu.
Platform dan Aksesibilitas
Podcast ini tersedia di semua platform besar: Spotify, Apple Podcasts, Google Podcasts, dan YouTube (versi audio visualizer sederhana). Kualitas audio sangat bersih, dan dia selalu pakai mikrofon yang bagus. Nggak ada alasan teknis buat nggak dengerin.
Kalau lo tipe yang suka baca, dia juga menyediakan transkrip di website radityadika.com. Berguna buat lo yang mau highlight quote-quote tertentu atau dengerin sambil baca kalau ada bagian yang nggak kecatch.
Kesimpulan: Apakah Worth It?
Bagi lo yang lagi merasa tersesat di usia 20-an atau awal 30-an, Menjadi Manusia bukan kompas yang bakal nunjukin jalan. Tapi dia adalah teman di sebelah yang bilang, “Gue juga nggak tahu jalan mana yang bener, tapi yuk jalan bareng sambil cari.”
Ini podcast yang akan bikin lo merasa lebih sedikit kesepian di perjalanan mencari arti. Bukan obat mujarab, tapi teman duduk yang nggak buru-buru ngasih solusi.
Rekomendasi saya: coba dulu episode 25 soal Quarter Life Crisis. Kalau setelah 40 menit lo merasa “ini gue banget,” berarti lo baru nemu temen ngobrol yang tepat. Kalau nggak, ya udah, mungkin lo butuh energi yang lebih action-oriented.
Yang pasti, lo akan keluar dari setiap episode dengan satu atau dua pertanyaan baru di kepala. Dan di fase QLC, punya pertanyaan yang lebih baik itu justru lebih penting daripada punya jawaban yang instan.




