Baru seminggu lalu, gue habis dengerin episode terbaru Close The Door sambil ngerjain deadline. Eh, tiba-tiba berasa lemes gitu, nggak fokus. Bukan karena bosan, tapi karena terlalu drained. Ya, itu dia masalahnya. Banyak yang bilang podcast Deddy Corbuzier ini terlalu dramatis, emosinya nggak karuan. Tapi sebenarnya, ada sisi lain yang bikin orang tetep ngebet dengerin tiap minggu. Let’s break it down bareng-bareng, gue jabarin semua angle-nya dari kacamata pendengar setia (yang kadang juga mau ngomel).

Apa Sih Close The Door Itu?

Buat yang masih asing, Close The Door (CTD) adalah podcast yang dibawain Deddy Corbuzier. Konsepnya simple: satu orang tamu, satu topik (atau seringnya malah nggak terarah), dan satu ruangan tertutup. Deddy jadi moderator sekaligus interviewer, tapi sering banget dia malah ikutan cerita, debat, atau bahkan “nyerang” tamunya. Durasinya? Bisa 90 menit sampai 2 jam lebih. Frekuensi rilis? Tiap minggu, kadang ada bonus episode di tengah minggu kalau lagi rame topiknya.

The Good Stuff: Kenapa Masih Banyak Yang Ngebet Dengerin

Sebelum kita bahas dramanya, gue akui dulu ada beberapa hal yang bikin CTD tetep jadi podcast yang must-listen buat banyak orang.

Deddy Corbuzier Factor

Yang paling jelas: Deddy itu master of provocation. Dia nggak cuma nanya, dia challenge tamunya. Contoh konkret: di episode dengan seorang pengusaha muda yang ngaku “self-made”, Deddy langsung nanya, “Lo yakin nggak ada bantuan orang tua? Buka dompet lo sekarang, lihat kartu kreditnya.” Ini yang bikin podcast ini nggak jadi wawancara basa-basi. Tamu terpaksa jujur atau setidaknya defensive, yang justru bikin kontennya jadi raw.

Guest yang “Bukan Main”

CTD punya akses ke tamu-tamu yang susah diajak ngobrol di podcast lain. Mulai dari artis top-tier, mantan napi terkenal, sampai politisi yang lagi hot. Misalnya, episode dengan Jessica Iskandar atau Ria Ricis itu viral bukan cuma karena tamunya, tapi karena Deddy bisa narik cerita-cerita yang biasanya ditutup-tutupi. Data konkret: episode dengan Jessica Iskandar di YouTube udah lebih dari 5 juta views dalam sebulan pertama. Itu angka yang gila untuk konten podcast.

Baca:  Review Podcast 'Misteri': Kumpulan Cerita Pendaki Gunung Yang Bikin Merinding

Storytelling yang Ampuh

Deddy punya kemampuan untuk ngebangun narasi. Dia nggak cuma tanya-tanya, dia nyambungin cerita tamu dengan pengalamannya sendiri atau dengan kasus-kasus lain. Ini bikin listener ikutan masuk ke dalam cerita. Efeknya? Kita berasa jadi bagian dari percakapan itu. Tapi, ini juga yang kadang bikin dramanya jadi berlebihan.

The Drama Factor: Apakah Terlalu Berlebihan?

Nah, sekarang masuk ke inti masalah. Apakah CTD terlalu dramatis? Gue jawab: iya, kadang. Tapi nggak selalu. Mari kita bedah.

Emotionally Draining

Ini yang gue rasain langsung. Episode dengan tamu yang ceritanya berat banjir, korban scam, atau konflik keluarga bisa bikin listener berasa lelah. Bukan kualitas audio yang jelek, tapi beban emosionalnya. Deddy suka nge-press tamunya sampe nangis atau marah. Kalau lo dengerin sambil lagi capek, bisa-bisa malah nambah stress. Contoh: episode dengan seorang mantan napi yang cerita tentang kehidupan di penjara, Deddy nanya detail-detail yang brutal. Gue sendiri harus pause berkali-kali.

Pacing yang Nggak Konsisten

Ada episode yang 30 menit pertama slow burn, cuma basa-basi, tiba-tiba di menit 45 langsung meledak dramanya. Ini bikin pacingnya nggak konsisten. Kadang gue ngerasa, “Eh, ini mau dibawa kemana?” Deddy terlalu fokus di satu titik tertentu, terus nggak sadar waktu udah habis 90 menit tapi topik utama belum tersentuh. Data: dari 20 episode terakhir, gue hitung ada 7 episode yang pacing-nya terlalu lambat di 20 menit awal.

Sensationalism atau Real Talk?

Ini dilema. Deddy sering banget nanya, “Kenapa lo nggak bilang ini dari dulu?” atau “Apa yang lo sembunyikan?” Ini bisa dianggap sensationalism. Tapi di sisi lain, tamu yang datang ke CTD udah tahu resikonya. Mereka datang bukan untuk promosi, tapi untuk “membersihkan nama” atau cerita yang belum pernah diungkap. Jadi, apakah itu dramatisasi? Gue rasa lebih ke real talk yang dipaksakan. Deddy paksa real talk-nya keluar dengan cara yang dramatis.

Deep Dive: Episode Spesifik yang Jadi Contoh

Biar nggak ngomong doang, gue kasih contoh konkret. Episode CTD dengan seorang pengusaha muda yang ketipu bisnis di menit 60-an, Deddy langsung nanya, “Berapa total kerugian lo? Jujur, jangan dikurangin.” Tamunya terdiam 10 detik, terus jawab, “Miliaran.” Detik itu, suasana berubah total. Gue yang dengerin langsung merinding. Itu contoh dramatisasi yang efektif.

Tapi ada juga episode yang terlalu dipaksakan. Misalnya, episode dengan seorang selebgram yang ceritanya cuma soal drama Instagram. Deddy tetep nge-press sampe nanya soal pendapatan per post, tapi tamunya nggak terlalu terbuka. Hasilnya? Drama yang terasa hambar. Pacing jadi aneh, dan gue ngerasa 90 menit itu terbuang.

Baca:  Podcast Horror Terbaik: Do You See What I See Vs Podcast Malam Kliwon, Mana Yang Lebih Seram?

The Audio Experience: Kualitas Suara & Produksi

Kalau soal audio, CTD cukup standar. Suara Deddy jelas, tamunya juga jelas. Tapi kadang ada masalah teknis kecil, seperti volume yang nggak seimbang atau ada delay. Gue pernah dengerin episode di Spotify yang suara tamunya lebih kecil 20% dari Deddy. Ini ganggu banget kalau lo dengerin pake earphone di tempat ramai.

Produksi minimalis. Nggak ada backsound musik yang ganggu, cuma suara obrolan. Ini bagus sih, tapi kadang terlalu sepi. Kalau dramanya lagi tinggi-tingginya, ada backsound pelan mungkin bisa nambah atmosfer. Tapi ya, Deddy mungkin mau nuansa “raw” dan “real”.

Kapan Waktu Tepatnya Dengerin CTD?

Berdasarkan pengalaman gue, ini bukan podcast buat dengerin pas lagi jogging atau di kendaraan umum yang ramai. Gue sarankan:

  • Malam hari, pas lo lagi sendirian dan bisa fokus. Butuh konsentrasi buat ikutin dramanya.
  • Akhir pekan, ketika lo nggak ada deadline mengejar. Jangan sampe dengerin CTD sambil kerja, bisa-bisa malah nggak produktif.
  • Saat lo butuh “reality check”. Kadang kita butuh dengerin cerita orang lain yang lebih berat buat ngerasa bersyukur.

Jangan pernah dengerin CTD pas lo lagi bad mood atau habis bertengkar sama pasangan. Trust me, itu cuma nambah beban pikiran.

Comparison: CTD vs Podcast Sejenis

Biar lebih jelas, gue bikin tabel perbandingan sama podcast lokal sejenis:

AspekClose The DoorPodcast Lokal (Rata-rata)
Durasi Episode90-120 menit45-60 menit
Intensitas DramaTinggi, sering emotionalSedang sampai rendah
Guest AccessHigh-profile, kontroversialUmumnya seleb atau pakar
PacingTidak konsistenLebih terstruktur
Audio QualityStandar, kadang issueLebih stabil

Dari tabel itu jelas, CTD itu outlier. Bukan podcast biasa. Kalau lo cari podcast santai, CTD bukan pilihan. Tapi kalau lo cari konten yang “berat” dan nggak mainstream, ini jawabannya.

Kesimpulan: Worth It atau Skip?

Jadi, apakah Close The Door terlalu dramatis? Iya, tapi itu fitur, bukan bug. Drama itu sengaja diciptakan buat narik cerita sebenarnya. Deddy Corbuzier tahu cara mainnya. Dia tahu kita, sebagai pendengar, haus akan konten yang nggak cuma surface-level.

Kalau lo tipe orang yang suka dengerin cerita nyata yang berat, nggak masalah sama pacing nggak konsisten, dan siap emotionally drained, CTD adalah must-listen. Tapi kalau lo lebih suka podcast edukatif yang santai dan terstruktur, mending cari alternatif lain.

Gue sendiri masih dengerin CTD, tapi pilih-pilih episode. Gue nggak dengerin semua. Cuma yang tamunya menarik atau topiknya lagi viral. Itu strategi terbaik buat nikmatin CTD tanpa burnout. Jadi, coba deh satu episode. Kalau lo tahan sama dramanya, lo bakal ketagihan. Kalau nggak, ya udah, skip aja. Nggak ada yang rugi kok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Podcast Horror Terbaik: Do You See What I See Vs Podcast Malam Kliwon, Mana Yang Lebih Seram?

Gue ngerti banget rasanya. Lu lagi nyari podcast horror yang beneran bikin…

Review Podcast ‘Misteri’: Kumpulan Cerita Pendaki Gunung Yang Bikin Merinding

Gue baru aja selesai marathon beberapa episode podcast Misteri sambil naik motor…

Podcast Bola Terbaik: Review ‘Box2Box Football’ Untuk Analisis Taktik Mendalam

Kalau lo bosen dengerin podcast bola yang isinya cuma gosip transfer dan…

Review Podcast ‘Podkesmas’: Masih Relevan Atau Kalah Saing Dengan Pendatang Baru?

“Dulu, dengerin Podkesmas itu kayak ritual mingguan. Tiap episode baru keluar, langsung…