Pernah ngerasa jalan jadi pengusaha itu berasa lonely banget? Coba cerita ke keluarga, kadang nggak paham. Curhat ke teman, malah ditanya kapan cari kerja “yang beneran”. Nah, podcast The Diary Of A CEO ini kayak temen ngobrol di tengah malam yang bener-bener get apa yang lagi kamu rasain.

Steven Bartlett, host-nya, bukan CEO yang ngomongin teori bisnis dari atas gedung pencakar langit. Dia lebih kayak founder yang baru aja lepas dari perusahaannya sendiri (Social Chain) dan mau jujur soal semua kesalahan, rasa takut, dan kebingungan yang pernah dia alami. Buat kita yang nge-build bisnis di Indonesia, banyak banget pelajaran hidup dari podcast ini yang bisa langsung dipake tanpa harus pusing mikir beda konteks.

Mengapa Podcast Ini Beda dari yang Lain

Mayoritas podcast bisnis itu kayak seminar: high-energy, penuh jargon, terus-terusan motivasi. Yang ini? Santai, tapi dalam. Steven sering ngomong pelan, bahkan ada jeda awkward di mana tamunya mikir. Suasana ini bikin tamu-tamunya (yang notabene tokoh-top seperti Mark Manson, Simon Sinek, atau mantan CEO Indra Nooyi) jadi lebih terbuka soal kegagalan.

Formatnya juga nggak kaku. Satu episode bisa 2-3 jam, tapi nggak berasa lama karena dia ngajak tamunya ngobrolin hal-hal personal: hubungan orang tua, kecanduan, sampai rasa nggak cukup (imposter syndrome). Ini yang bikin relevan banget buat pengusaha Indonesia yang sering ketemu cultural clash antara ekspektasi keluarga dan ambisi pribadi.

Pelajaran Hidup yang Langsung Bisa Diterapkan

1. “Bukan Soal Jam Kerja, Tapi Energi yang Dikeluarkan”

Di episode dengan Alex Hormozi, mereka bahas soal energy management vs time management. Steven bilang dia pernah kerja 16 jam sehari tapi hasilnya nggak sebanding dengan sekarang dia kerja 6 jam. Kenapa? Karena sekarang dia fokus 6 jam itu 100% present.

Buat pengusaha Indonesia yang masih bangga dengan hustle culture “kerja sampai malem”, ini wake-up call. Steven ngasih contoh konkret: dia track energinya per jam, bukan waktunya. Kapan dia paling kreatif? Pagi hari. Jadi meeting penting atau creative work harus di pagi. Sisanya? Delegasikan.

  • Praktik langsung: Coba catat selama seminggu, jam berapa kamu paling fokus. Terus blok waktu itu buat kerjaan yang paling krusial.
  • Tools sederhana: Pakai Google Calendar, warnai blok “High Energy” dengan warna terang. Jangan isi dengan meeting ngalor-ngidul.
Baca:  Kritik Podcast "Hustle Culture": Kenapa Nasihat GaryVee Bisa Berbahaya untuk Pengusaha Pemula di Indonesia

2. “Delegasi Bukan Soal Nggak Peduli, Tapi Soal Trust yang Dibangun”

Steven pernah cerita soal masa-masa dia nggak bisa delegasi. Dia mikir, “Kalau aku nggak yang urus, nanti berantakan.” Akhirnya dia burnout dan timnya nggak berkembang. Ini nih yang sering jadi masalah pengusaha UMKM di Indonesia: susah lepas kendali.

Pelajaran kuncinya? Delegasi mulai dari yang paling low-risk. Steven delegasikan dulu tugas-tugas operasional kayak scheduling email. Lama-lama, dia bangun sistem check-in harian (bukan mikromanagement, tapi update singkat 15 menit). Setelah timnya terbukti bisa handle, dia lepas lebih banyak.

“Trust is built in small moments, not in one big leap.” – Steven Bartlett

Ini relevan banget sama budaya di sini yang kadang delegasi diartikan sebagai “menyusahkan orang lain”. Padahal, nggak delegasi itu justru yang nyusahin tim karena mereka nggak dapet kesempatan belajar.

3. “Relationship Capital” Lebih Penting dari Financial Capital

Di episode dengan Scott Galloway, mereka bahas soal pentingnya jaringan. Steven bilang, modal awal Social Chain cuma £300, tapi yang bener-bener nge-launch perusahaan itu adalah hubungannya dengan influencer-influencer kecil yang dia bangun bertahun-tahun.

Kita di Indonesia punya istilah “punya orang”. Tapi Steven ngasih twist: relationship capital itu bukan soal nepotisme, tapi soal genuine connection. Dia selalu catat hal kecil soal orang: ulang tahun anaknya, proyek yang lagi dikejar, bahkan masalah pribadi (kalau mereka share).

Triiknya: follow up tanpa pamrih. Steven pernah kirim email ke seorang investor yang nggak jadi invest, cuma buat bilang makasih dan share artikel yang mungkin berguna buat proyek si investor. Tiga bulan kemudian, investor itu malah yang nawarin kesempatan lain.

Nggak semua episode relevan langsung. Ada yang terlalu UK-centric atau bahas industri yang jauh dari konteks kita. Tapi ini daftar episode wajib dengar yang bisa langsung diterapkan:

Episode (Tamu)Topik UtamaRelevansi untuk ID
Steven Bartlett (Solo Episode)Energy ManagementTinggi – Bisa langsung praktik
Mark MansonResponsibility & FailureTinggi – Mindset shifting
Indra NooyiLeadership & FamilySedang – Inspiratif tapi korporat
Scott GallowayWealth & RelationshipsTinggi – Financial literacy
Dr. Julie SmithMental Health for LeadersTinggi – Burnout prevention

Filter Episode Berdasarkan Fase Bisnis

Kalau kamu baru mulai (0-1 tahun), fokus ke episode soal validation dan failure. Steven sering bahas soal “building in public” dan kenapa ngasih produk gratis di awal itu penting buat dapet feedback. Ini mirip konsep “ngasih tester” di komunitas-komunitas Facebook produk lokal.

Kalau bisnis kamu udah jalan (2-5 tahun) dan lagi di fase scaling, dengerin episode tentang hiring dan culture. Steven pernah ngomong, “Hire for culture fit, but fire for culture violation.” Ini penting banget di Indonesia di mana tim kecil itu kayak keluarga, tapi kadang malah jadi penghambat karena nggak tegas nge-handle toxic member.

Baca:  Review Podcast Thirty Days Of Lunch: Apakah Worth It Didengar Fresh Graduate?

Cultural Gap yang Perlu Diadaptasi

Nggak semua saran Steven bisa di-copy paste. Ada beberapa hal yang perlu disesuaikan sama konteks Indonesia:

  • Soal Mental Health: Di UK, terapi itu normal. Di sini, masih banyak yang mikir “cuman lemah mental”. Jadi, pelajaran soal burnout dari Dr. Julie Smith perlu diadaptasi jadi “istirahat produktif” atau “digital detox” yang lebih bisa diterima tim.
  • Soal Negotiation: Steven sering bilang “walk away if the deal doesn’t feel right.” Di ekosistem Indonesia di mana relasi itu everything, walk away perlu dilakukan dengan lebih halus. Gunakan konsep “delayed yes” – minta waktu pikir alih-alih langsung nolak.
  • Soal Transparency: Dia terbuka soal gaji dan equity. Di sini, transparansi total bisa bikin tim nggak fokus kalau belum ada trust foundation yang kuat. Mulai dari transparansi proses dulu, baru transparansi angka.

Cara Mendengarkan Supaya Nggak Jadi Binge-Watching Tapi Beneran Actionable

Steven sendiri pernah bilang, “Information without action is just entertainment.” Jadi gimana caranya nggak cuma dengerin doang?

Metode “One Thing”

Setiap selesai episode, catat satu hal yang akan kamu terapkan dalam 24 jam. Bisa sekecil “kirim email follow-up ke satu kontak lama” atau “delegasikan satu tugas ke anggota tim.” Yang penting, actionable dan time-bound.

Podcast Journaling

Siapin notes di phone. Tiap Steven atau tamunya ngomongin sesuatu yang bikin kamu ternganga, pause terus tulis: “Why does this resonate with me?” Jawabannya sering kali adalah pain point yang belum kamu sadari. Ini teknik yang dia pelajari dari terapisnya sendiri.

Warning: Jangan dengerin sambil multitasking yang butuh otak. Steven ngomong pelan, banyak nuansa. Kalau dengerin sambil nyetir di macet Jakarta sih oke, tapi kalau sambil bales email, kamu akan kelewatan insight penting.

Diskusi di Komunitas

Cari satu atau dua teman pengusaha yang juga dengerin. Buat grup WhatsApp kecil cuma buat bahas satu episode per minggu. Tanya: “Kalau kita terapkan ini di bisnis kita, apa yang perlu diubah?” Ini bikin pelajaran jadi lebih sticky dan relevan sama kondisi lokal.

Final Verdict: Worth It atau Skip?

100% worth it, tapi dengan catatan. Kamu harus jadi listener yang aktif, bukan pasif. Podcast ini bukan buat dengerin sambil nge-scroll TikTok. Ini buat kamu yang bener-bener mau belajar soal human side of business.

Kalau kamu pengusaha Indonesia yang lagi merasa stuck, lonely, atau bingung arah, The Diary Of A CEO itu kayak ngobrol sama mentor yang udah pernah jatuh bangun dan mau jujur soal luka-lukanya. Beda sama podcast bisnis lokal yang kadang masih terlalu “jualan” atau terlalu teori.

Satu hal lagi: jangan terintimidasi sama tamunya yang nama-nama besar. Steven punya kemampuan nyaris supernatural buat ngebahas kesulitan personal mereka, jadi kamu akan ngerasa, “Oh, ternyata mereka juga manusia biasa.” Dan itu, justru yang paling empowering.

Mulai dari episode solo Steven tentang energy management. Terus lanjut ke Mark Manson. Dua episode itu aja udah cukup buat ubah cara kamu kerja selama sebulan. Kalau udah ngerasa beda, baru dengerin yang lain. Happy listening, dan semoga bisnismu makin solid!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Podcast Bisnis: Review ‘Dewa Eka Prayoga’ Vs ‘Christina Lie’, Mana Mentor Terbaik?

Stres milih mentor bisnis? Buka Spotify, langsung bingung antara Dewa Eka Prayoga…

Review Podcast “Ngobrolin Startup”: Realita Kerja di Tech Company yang Jarang Diceritakan HRD

Pernah denger janji manis startup soal “culture” dan “work-life balance” pas interview,…

7 Podcast Keuangan & Investasi Terbaik Untuk Pemula (Cocok Untuk Gaji Umr)

Gaji UMR, harga kebutuhan hidup melambung, tapi gaji nggak naik-naik. Lo pengen…

Kritik Podcast “Hustle Culture”: Kenapa Nasihat GaryVee Bisa Berbahaya untuk Pengusaha Pemula di Indonesia

Lo pernah denger podcast GaryVee yang ngomongin “hustle 24/7”? Aku dulu. Setiap…