Podcast komedi di Indonesia itu banyak, tapi cari yang chemistry-nya beneran klik dan nggak terasa dipaksa? Susah. Kebanyakan kayak lagi nonton stand-up yang di-record, bukan obrolan asli. Kalo kamu udah mueneng sama podcast-podcast yang terlalu “scripted”, VINDES bisa jadi angin segar.

Nama VINDES itu singkatan dari Vincent & Desta. Dua orang yang background-nya beda banget tapi somehow nyambung aja. Vincent Raditya, aktor penyanyi yang ternyata punya sense of humor absurd. Desta, yang kita kenal sebagai mantan partner Deddy Corbuzier, bawa pengalaman ngobrol ngalor-ngidul tanpa filter. Kombinasi ini bikin VINDES punya warna sendiri.

Chemistry Mereka Itu Nyata Banget, Bukan Cuma “On Air”

Yang paling beda dari VINDES: kamu ngerasa mereka emang saudaraan beneran. Bukan cuma dua host yang dipasangkan demi rating. Desta dan Vincent punya inside joke yang numpuk dari tahun 2019, waktu mereka pertama kali nge-host acara TV bareng.

Di episode 47, misalnya, mereka ngomongin masa-masa shooting di Bali tanpa alokasi makan. Vincent cerita dia cuma makan indomie rebus 3 hari berturut-turut. Desta langsung ngehafal detailnya: “Itu kan yang pake panci hotel, terus lo pake sendok plastik yang dibakar di ujungnya!” Detail kayak gini nggak mungkin dibuat-buat. Itu tanda mereka beneran ingat dan dengerin satu sama lain.

Data konkretnya: VINDES rilis episode pertama di Spotify pada September 2021. Sampe sekarang, Agustus 2024, udah lebih dari 130 episode dengan durasi rata-rata 90 menit per episode. Angka ini penting karena menunjukkan konsistensi. Chemistry yang sustainable dalam jangka panjang itu jauh lebih susah daripada viral sekilas.

Format yang Ngebosenin? Justru Sebaliknya

Struktur VINDES sederhana tapi efektif. Mereka nggak punya segmentasi kaku kayak podcast korporat. Tapi ada pola yang bisa kamu ikutin:

  • 0-15 menit: Opening banter yang random. Bisa dari curhat Vincent nyuci mobil sampe Desta ngomel soal macet di Cikampek.
  • 15-45 menit: Topik utama. Ini bisa deep dive tentang film, musik, atau bahkan analisis kontroversial soal industri hiburan.
  • 45-60 menit: Curhat segment. Di sini mereka baca email atau DM dari listener. Bagian paling raw dan emosional.
  • 60-90 menit: Free flow. Bisa jadi lanjutan topik, atau malah muter ke arah yang nggak terduga.
Baca:  Rekomendasi Podcast True Crime Indonesia: Review 'Lentera Malam' Sisi Gelap Jakarta

Yang menarik: mereka nggak pernah bawa notes. Semua dari ingatan dan respons spontan. Di episode 89, mereka ngomongin film “Everything Everywhere All At Once” tanpa prepare, tapi Vincent bisa ngasih analisis multiverse yang surprisingly deep sambil Desta nimpalin joke absurd soal alternate reality di mana dia jadi barista.

Kenapa Susah Ditiru? Ini Rahasia Kombinasi Unik Mereka

Banyak creator coba tiru formula “dua host ngobrol santai”. Tapi VINDES punya elemen yang nggak bisa di-photocopy:

1. Shared Trauma & Glory

Mereka punya pengalaman kerja bareng di TV yang keras. Desta pernah cerita di episode 23, waktu mereka hosting show malam, produser nyuruh mereka ulang take 17 kali karena lighting. Vincent sampai nangis di toilet. Pengalaman kayak ini bikin mereka punya rasa saling mengerti yang dalam.

2. Timing Komedi yang Nggak Pernah Maksa

Vincent punya background teater. Desta belajar komedi dari jam terbang. Keduanya tau kapan harus jadi straight man, kapan harus jadi punchline. Di episode 102, waktu ngomongin kegagalan bisnis Desta, Vincent nggak langsung ngejek. Dia diam 3 detik, terus ngomong pelan: “Jadi lo pernah jadi CEO yang bangkrut? Keren juga ada di CV.” Joke yang nyakitin toh lucu karena timingnya pas.

3. Vulnerability Tanpa Batas

Di segment Curhat, mereka baca surat dari listener yang cerita masalah pribadi: depresi, putus cinta, bahkan trauma keluarga. Reaksi mereka nggak pernah superficial. Di episode 76, ada email dari mahasiswa yang bilang ingin bunuh diri. Vincent langsung nangis. Desta nggak cuma kasih advice, dia cerita pengalaman dia di terapi. Momen kayak ini bikin listener ngerasa ada di ruang terapi, bukan cuma ngedengar podcast.

“VINDES itu bukan cuma podcast komedi. Ini obrolan dua sahabat yang kebetulan punya platform. Kamu dengerin mereka bukan buat cari jawaban, tapi buat ngerasa: ‘Ah, ternyata nggak sendirian’.”

Episode Rekomendasi buat Pendengar Baru

Kebingungan mau mulai dari mana? Ini 3 episode yang nge-showcase chemistry mereka paling kencang:

Episode 32: “Vincent Ngeluh Soal Diet, Desta Ngeluh Soal Bini”
Durasi: 1 jam 47 menit. Perfect introduction ke dinamik mereka. Vincent lagi keto diet ekstrem, Desta ngomongin konflik rumah tangga yang sepele tapi real. Episode ini viral di TikTok dengan clip 30 detik yang di-share 50 ribu kali.

Episode 58: “Bongkar Rahasia Industri Hiburan (feat. Pandji Pragiwaksono)”
Durasi: 2 jam 12 menit. Guest star tapi nggak mengganggu chemistry. Malah jadi kayak diskusi 3 sahabat. Pandji bawa data soal royalty Spotify, Vincent bawa cerita ditelpon mantan manager di tengah malam, Desta jadi moderator yang nggak netral (dia selalu ngambil side Vincent).

Baca:  Podcast Horror Terbaik: Do You See What I See Vs Podcast Malam Kliwon, Mana Yang Lebih Seram?

Episode 101: “100% Curhat: Listener yang Kena PHK”
Durasi: 1 jam 34 menit. Episode tanpa topik spesifik. Mereka baca 5 email dari listener yang semuanya cerita soal kehilangan pekerjaan. Vincent share dia pernah di-cancel job 24 jam sebelum shooting. Desta cerita dia nganggur 8 bulan pasca keluar dari TV. Episode paling raw di tahun 2023.

Kekurangan yang Harus Diterima

Sebagai teman yang jujur, aku harus bilang: VINDES nggak sempurna. Ada beberapa hal yang bisa jadi dealbreaker buat sebagian orang:

  • Durasi Panjang: 90 menit itu standar. Kalo lagi ngomongin topik berat, bisa 2 jam lebih. Nggak cocok buat yang suka podcast 20 menit ala TED Talk.
  • Inside Joke Berlebihan: Di episode 110 ke atas, mereka sering refer ke episode lama. Pendengar baru mungkin bingung, “Ngomongin apa ini?” Butuh effort buat nyari konteks.
  • Kontroversial Takes: Desta terkenal blak-blakan soal politik dan agama. Vincent pernah bikin joke soal mental health yang sempat viral (dan dia minta maaf di episode berikutnya). Kamu harus punya filter buat bedain joke dari opini serius.

Tapi justru di situlah authenticity-nya. Mereka nggak coba jadi politically correct demi sponsor. Di episode 95, mereka tolak sponsor makanan karena produknya nggak pernah mereka coba. “Mending nggak usah duitnya, tapi kita jujur sama listener,” kata Desta.

Kesimpulan: Apakah Worth It?

Kalo kamu lagi nyari podcast yang bisa nemenin perjalanan pulang kerja sambil ketawa-ketawa sendiri di motor, VINDES itu must-listen. Tapi kalo kamu butuh konten yang rapi, terstruktur, dan “safe”, mungkin ini bukan untukmu.

Data terakhir dari Spotify Wrapped 2023: VINDES masuk top 5 podcast paling banyak di-share di Indonesia. Bukan cuma soal angka, tapi retention rate mereka 78% (pendengar nggak skip). Itu artinya orang beneran dengerin full episode, bukan cuma 5 menit pertama.

Jadi, coba deh dengerin episode 32 dulu. Jangan langsung dari episode terbaru. Rasain dulu vibe mereka. Kalo setelah 30 menit kamu ngerasa “Ah, ini obrolan garing”, ya mungkin memang nggak cocok. Tapi kalo kamu ketawa atau bahkan tiba-tiba terenyuh, selamat: kamu baru aja nemu podcast yang bakal jadi teman setia di headphone.

Oh, dan saran penting: dengerin pakai earphone. Banyak detail audio kecil, kayak Vincent ngetik-ngetik di meja waktu Desta cerita serius, atau Desta nyeruput kopi sambil mikir. Sound engineer mereka, Mas Adit, sengaja nggak edit itu keluar. “Biar kerasa kayak lo duduk di sofa sebelahan sama mereka,” katanya di episode behind-the-scenes.

Yang jelas, chemistry Desta & Vincent ini nggak cuma soal komedi. Ini soal dua orang yang berani jadi diri sendiri, bareng-bareng. Dan itu, temen-temen, adalah sesuatu yang nggak bisa ditiru hanya dengan script atau format. Butuh waktu, trust, dan rasa saling percaya yang udah diuji di lapangan. VINDES punya semuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Podcast Agak Laen: Apakah Masih Lucu Di Tahun 2025 Atau Mulai Membosankan?

Lu pernah ngerasa bosan dengerin podcast komedi yang lawakannya udah basi? Atau…

Review Podcast ‘Misteri’: Kumpulan Cerita Pendaki Gunung Yang Bikin Merinding

Gue baru aja selesai marathon beberapa episode podcast Misteri sambil naik motor…

Review Podcast ‘Podkesmas’: Masih Relevan Atau Kalah Saing Dengan Pendatang Baru?

“Dulu, dengerin Podkesmas itu kayak ritual mingguan. Tiap episode baru keluar, langsung…

Podcast Horror Terbaik: Do You See What I See Vs Podcast Malam Kliwon, Mana Yang Lebih Seram?

Gue ngerti banget rasanya. Lu lagi nyari podcast horror yang beneran bikin…