Lo pernah nggak sih, sebagai fresh graduate, buka Spotify terus bingung mau denger podcast apa? Semua kayak menarik, tapi takut invest waktu buat yang ternyata nggak relate sama fase lo sekarang. Nah, podcast Thirty Days of Lunch ini sering banget muncul di rekomendasi, tapi apakah beneran worth it buat yang baru lulus? Gue coba breakdown buat lo.
Apa Sih Konsepnya?
Intinya, ini podcast interview harian selama 30 hari. Host-nya, Gita Savitri, ngajak ngobrol orang-orang keren dari berbagai industri—dari founder startup sampai kreator konten—sambil makan siang (secara virtual). Durasinya nggak ngebosenin, sekitar 30-45 menit per episode, pas banget buat nemenin perjalanan dari kos ke kantor.
Yang bikin beda adalah settingnya yang super santai. Bukan wawancara kaku kayak di TV, tapi lebih ke arah ngobrol ngalor-ngidul. Lo bakal denger cerita gagal, struggle, sampai momen “aha!” yang nggak pernah dibagikan di media lain.

Kenapa Fresh Graduate Harus Dengerin?
Pertama, topiknya relevan banget. Episode dengan CEO startup lokal misalnya, dia bahas gimana caranya survive di tahun pertama kerja dengan gaji UMR. Atau episode sama content creator yang dulu juga ngandelin sampingan demi financial security.
Kedua, lo dapet multiple perspectives dalam waktu singkat. 30 hari itu artinya lo bisa denger 30 pola pikir berbeda. Bisa lo jadikan referensi mau masuk industri A, B, atau C. Nggak perlu baca puluhan buku biografi.
Ketiga, tone-nya empatik dan nggak judgmental. Host-nya sering banget ngomong “Wah, itu gue juga pernah ngerasain” atau “Gue paham banget sih perasaannya”. Ini penting buat fresh graduate yang masih insecure sama pilihan karirnya.
Episode Wajib Pendengar Baru
Kalo lo baru mau coba, jangan random pilih episode. Gue rekomen start dari:
- Episode 1-5: Fokus ke founder muda. Insight soal starting from scratch.
- Episode 15-20: Banyak kreator konten dan freelancer. Relevan buat yang mikir side hustle.
- Episode 25-30: Para pemimpin perusahaan established. Bikin lo mikir long-term career vision.
Strategi ini bikin lo nggak overwhelmed dan punya narasi perkembangan yang jelas.
Kualitas Produksi: Beneran Enak Didenger?
AUDIO QUALITY-nya impressive untuk podcast independen. Jarang ada noise, suara host dan tamu seimbang. Editing-nya juga clean—nggak ada jeda awkward atau ngulang-ngulang kata.
Intro dan outro music-nya catchy tapi nggak nyebelin. Bahkan setelah denger 30 episode, lo nggak bakal skip intro karena durasinya cuma 15 detik dan langsung to the point.
Yang paling gue suka: transkrip episode tersedia di website. Kalo ada quotes bagus tapi nggak sempet nulis, tinggal copy dari web. Ini detail kecil tapi super helpful buat student atau fresh graduate yang suka catet-catet insight.

Kekurangan yang Perlu Lo Tahu
Nggak ada yang perfect, kan? Ada beberapa hal yang mungkin jadi dealbreaker buat beberapa orang:
Pertama, format interview ini kurang cocok kalo lo prefer podcast storytelling atau solo commentary. Kalo lo lebih suka denger monolog panjang tanpa interupsi, mungkin bakal merasa kurang puas.
Kedua, kedalaman topik terbatas. Karena durasi cuma 30-45 menit dan harus cover journey seseorang, beberapa episode terasa “skimming the surface”. Lo bakal dapet inspirasi, tapi bukan technical deep-dive.
Ketiga, frekuensi rilis yang daily di awal bisa jadi overwhelming. Gue sendiri butuh 2 bulan buat ngejar 30 episode karena nggak bisa konsisten denger tiap hari. Saran gue: jangan force diri lo jadi daily listener.
Pro tip: Jangan denger sambil multitasking yang butuh fokus tinggi. Episode-episode ini penuh insight yang sayang kalo lewat cuma karena lo sibuk reply email.
Perbandingan Singkat: Thirty Days of Lunch vs Podcast Lain
| Aspek | Thirty Days of Lunch | Podcast Karir Lain |
|---|---|---|
| Target Audience | Fresh graduate, job seeker | Mid-level professional |
| Format | Interview santai | Varies (solo, panel) |
| Durasi Episode | 30-45 menit | 60-90 menit |
| Actionable Insights | Tinggi (banyak tips praktis) | Menengah (teori lebih banyak) |
Bedanya jelas kan? Ini lebih beginner-friendly dan nggak memakan waktu terlalu lama.
Apakah Worth It?
YES, tapi dengan catatan. Kalo lo fresh graduate yang lagi:
- Exploring career options
- Butuh motivasi dari cerita nyata
- Suka format interview santai
Maka ini must-listen. Tapi kalo lo udah punya path karir yang jelas dan prefer konten yang lebih technical, mungkin lo bakal ngerasa kurang puas.
Gue sendiri ngerasa waktu 30 jam total yang gue habisin untuk dengerin semua episode itu worth it banget. Bikin gue lebih berani networking, lebih paham gimana cara pitch diri ke atasan, dan yang paling penting: ngerasa nggak sendirian dalam ketidakpastian.
Final verdict: Dengerin 5 episode dulu. Kalo lo sampe episode 5 masih merasa “Meh,” mungkin emang belum cocok. Tapi kalo lo udah bookmark 3 quotes dan share ke grup WA kawan-kawan, selamat, lo ketemu podcast yang pas.




